Keterangan Foto :

Variabel Dakwah Walisongo

Oleh: H. Shabrun Jamil, S.Ag (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kementerian Agama Kabupaten Tangerang) Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih memimpin kabilah dagang milik Khadijah ke Syam, sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, kerap kali beliau bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam. Menurut penelitian yang dilakukan oleh G.R. Tibbetts hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara bahkan telah terjadi pada zaman pra Islam. Bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara memperkuat penemuannya. Disebutkan pula dalam sebuah dokumen kuno yang berasal dari Tiongkok bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M , hanya selang 15 tahun pasca Rasulullah s.a.w. menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah melakukan aktivitas Dakwahnya, di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Itulah mengapa sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah s.a.w. masih hidup di Mekkah dan Madinah. Teori ini dalam sejarah Islam Nusantara disebut Teori Mekkah. Teori ini sekaligus mematahkan teori Van Erp yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 melalui pedagang Gujarat. Para sejarawan sepakat bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia dilakukan dengan cara damai secara berangsur-angsur melalui perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan pesantren, penyebaran dai, perkumpulan tarekat, penyuluhan pertanian, akulturasi seni dan budaya, dan sebagainya. Setelah komunitas muslim Nusantara banyak terbentuk di beberapa tempat, muncullah para penyebar Islam di Pulau Jawa yang membentuk sebuah Dewan, yang kita kenal dengan Wali Songo (Wali Sembilan). Pada dasarnya Wali Songo adalah sebuah Dewan Wali yang terdiri dari sembilan Wali pada setiap angkatannya. Angkatan Pertama Wali Songo dimulai pada tahun 1404, dan angkatan ke-8 Wali Songo berakhir pada tahun 1650. Pada setiap angkatannya pasti ada anggota Wali Songo yang baru yang menggantikan anggota Wali Songo yang telah tiada. Dalam rentang waktu tersebut, Dewan Wali Songo telah berhasil membuat beberapa kerajaan Islam, salah satunya adalah kerajaan Islam Banten (termasuk Jayakarta atau Batavia masuk ke dalam wilayah kerajaan Islam Banten). Snock Horgrounje pernah mengatakan kepada pemerintah kerajaan Belanda, bahwa menguasai Nusantara harus dimulai dengan menguasai kerajaan Islam Banten. Artinya, kerajaan Islam Nusantara yang dibuat oleh anggota-anggota Dewan Wali Songo pada saat itu termasuk kerajaan besar yang sangat diperhitungkan oleh dunia. Keberhasilan Dakwah para Wali Songo terletak pada variabel metode Dakwah mereka. Mereka adalah para Dai yang sangat kreatif dengan mobilitas Dakwah tinggi. Maulana Malik Ibrahim/Maulana Maghribi/Syekh Maghribi/Syekh Jumadil Kubra/Sunan Gresik membuka warung untuk berjualan kebutuhan sehari-sehari dengan harga murah, mengadakan pengobatan gratis, membangun pondok pesantren pertama di Pesucian. Dalam bidang kesenian ia membuat Tembang Suluk, Gundul-gundul pacul. Dalam bidang pendidikan ia membangun Pondok Pesantren di Leran, Gresik Sunan Ampel/ Raden Rahmat (Ampel, Surabaya) mendirikan pesantren Ampel. Ia adalah perancang kerajaan Islam Demak. Ia melakukan perkawinan dengan puteri Manila. Ia membuat norma Molimo dalam masyarakat: Larangan berjudi, mabuk, mencuri, mabuk dan zina, moh main, ngombe, maling madat dan madon Sunan Bonang/Raden Maulana Makdum Ibrahim (Surabaya), menyesuaikan Dakwahnya dengan kebudayaan masyarakat, dengan menciptakan gamelan Bonang/gending, Tombo Ati, dan Suluk. Ia mengganti nama-nama dewa dengan nama-nama Malaikat. Ia pun ahli dalam pewayangan - Sunan Giri/Raden Paku/Raden Ainul Yakin (Giri), mendirikan pesantren Giri, menciptakan permainan anak-anak, mengirim juru dakwahnya yang terdidik ke berbagai pelosok daerah di luar Jawa, menciptakan permainan Jelungan, Gendi Ferit, Jor, Gula Anti, Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir, Gending Asmaran Dana, dan Pucung. Sunan Drajad/Raden Qosim/Syarifudin (Surabaya), memberikan pengajaran Tauhid dan Akidah secara langsung. Orientasi dakwahnya adalah pada kegotong-royongan. Ia melakukan pendekatan kultural dengan menciptakan tembang jawa. Ia menciptakan suluk petuah: Berilah tongkat pada si buta, berilah makan pada yang lapar, berilah pakaian pada yang telanjang Hasil karya seninya adalah Tembang Pangkur dan Gamelan Singomengkok Sunan Kalijaga/Raden Mas Syahid bin RadenSahur (Tuban). Ia merancang masjid Demak (tata dan pecahan kayu). Gaya sufistiknya adalah berbasis salaf. Ia menggunakan wayang dan gamelan sebagai media dakwahnya. Ia mengarang cerita-cerita pewayangan, dan mengembangkan seni suara, seni ukir, busana, pahat, dan kesusastraan. Beberapa hasil karya seninya adalah Wayang Purwa, Cerita Pewayangan, Jamus Kalisada, Babat Alas Wonomarto, dan Wahyu Tohjali. Sunan Kudus/Jafar Sadik/Waliyyul Ilmi (Jipang Panoalan, Blora), membuat cerita-cerita ketauhidan. Dalam berdakwah ia menggunakan pendekatan kurtural dengan memanfaatkan simbol Hindu-Budha. Ia membetulkan menara, gerbang, tempat wudhu. Ia juga menciptakan Gending. Karya-karya seninya adalah Cerita Agama Maskumambang dan Mijil. Sunan Muria/ Raden Umar Said/Raden Prawoto bin Sunan Kalijaga (Gunung Muria, Kudus), menjadikan desa-desa terpencil sebagai pusat dakwahnya Ia Mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, nelayan,dan rakyat biasa seperti berdagang, bercocok tanam, dan melaut. Hasil karya seninya adalah Tembang dakwah Sinom dan Kinanti Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah, cucu Prabu Silihwangi(Pangeran Sabakingking) (Jawa Barat). Ia membanguin infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah, melakukan ekspedisi ke Banten. Ia memanfaatkan pengaruhnya sebagai cucu kerajaan Padjajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Sejak awal penyebarannya di Nusantara, Islam merepresentasikan sosoknya sebagai agama yang membangun, sejuk, inklusif, dan membumi dengan masyarakat. Secara historis, seperti inilah wajah Islam di Nusantara. Sejarah membuktikan pula bahwa spirit Islamlah yang berjuang habis-habisan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Kecintaan para Wali Songo terhadap bangsa dan negara tidak terbantahkan. Semangat membela bangsa dan negaranya sangat patut diacungi jempol. Penyebaran Islam ke Nusantara, benar-benar Rahmatan Lil Alamin.