Keterangan Foto : Moderasi Bergama

Moderasi Beragama dalam Kehidupan Siswa Madrasah

Oleh : Aziz Dana Rosadi dan Gustian Munaf S. Pd.
Madrasah Aliyah Negeri 5 Tangerang

Pengertian Moderasi Beragama
Moderasi Secara BahasaKata moderasi berasal dari Bahasa Latin Moderatio, yang berarti ke­sedang­an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Kata itu juga berarti penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata moderasi, yakni: 1. pengurangan kekerasan, dan 2. penghindaran keekstreman. Jika dikatakan, “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajar, biasa-­biasa saja, dan tidak ekstrem.

Dalam bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata­rata), core (inti), standard (baku), atau non-aligned (tidak berpihak). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara.

Sedangkan dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-­tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith. Dalam bahasa Arab pula, kata wasathiyah diartikan sebagai “pilihan terbaik”. Apa pun kata yang dipakai, semuanya menyiratkan satu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem.

Hukum bisa saja hanya menyentuh aspek permukaan dan tidak memenuhi rasa keadilan sesungguhnya, sehingga perlu ada sentuhan kebaikan. Keadilan adalah dimensi hukum, sedangkan kebaikan adalah dimensi etik. Dalam QS. al-Baqarah: 143, dijelaskan bahwa Allah menyatakan bahwa kaum muslimin dijadikan ummatan wasathan.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (QS. al-Baqarah: 143)

Tolak Ukur Moderasi Beragama
Seberapa kuat kembalinya penganut agama kembali pada inti pokok ajaran, yaitu nilai kemanusiaan. Melalui kemanusiaan maka perbedaan agama di tengah masyarakat bukan menjadi persoalan mengganggu keharmonisan.

Kesepakatan bersama. Melalui kesepakatan bersama menunjukkan kerja sama di antara sesama manusia yang beragam. Karena bagaimanapun manusia memiliki keterbatasan sehingga keragaman itu akan saling menutupi kekurangan. Keragaman diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk membuat sesama manusia saling menyempurnakan. Keragaman itu adalah kehendak Tuhan karena manusia yang beragam membutuhkan kesepakatan. Inti pokok ajaran agama bagaimana setiap kita tunduk dan taat terhadap kesepakatan bersama. 

Ketertiban umum. Manusia yang beragam latar belakang agar bisa tertib yang bisa memicu suasana beragama yang moderat. Tujuan agama dihadirkan agar tercipta ketertiban umum di tengah kehidupan bersama yang beragam.

Dalam kehidupan sehari hari tawasuth atau moderat terekspresikan pada sikap yang seimbang antara pikiran dan tindakan, tidak gegabah dalam mengambil keputusan apalagi menghakimi

Dalam kehiudpan berbangsa dan bernegara sikap tawasuth tercermin dari disepakatinya panacasila oleh para founding father sebagai dasar negara pancasila merupakan jalan tengah untuk menghindarkan indonesia dari benturan antara agama dan negara serta terpenting kampung dalam menjembatani perbedaan suku agama, ras dan bahasa hingga seluruh elemen bangsa krisya mampu hidup bersama dalam bingkai negara kesatuan republic Indonesia lawan dari sikap tawassuth adalah sabtoro atau extron jika tawassuth mampu membawa harmoni dalam kehidupan umat manusia maka sebaliknya sikap atau dapat dapat menjadikan manusia terjebak dalam kekacauan atau disharmoni dalam bahasa arab setidaknya ada dua kata yang makna nya sama dengan kata ekstren yaitu Al buluh dan Al setu dalam konteks Beragama pengertian berlebihan ini dapat diterapkan untuk menyebut orang yang bersikap ekstrem yaitu melampaui batas dan ketentuan syariat islam sikap ekstrem muncul karna cara pandang syuting keterbatasan ilmu pengetahuan logika berfikir yang tidak frame dan merasa benar sendiri atau close haiden sikap ekstrem inilah yang menentukan tempatnya jika terdapat kelompok masyarakat dengan ini KWH sama ekstremitas dalam berbagai bentuknya diyakini bertentangan dengan esensi ajaran agama dan cenderung merusak tatanan kehidupan bersama baik dalam kehidupan beragama maupun bernegara, moderasi Bergama merupukan perekat antara semangat beragama dengan komitmen berbangsa dan bernegara yakinlah bahwa batin kita bagi bangsa Indonesia beragama pada hakikat nya adalah berindonesia dan berindonesia pada hakikatnya adalah beragama, moderasi Bergama harus kita jadikan sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang rukun harmonis, damai toleransi serta taat konstitusi sehingga kita bisa benar benar menggapai cita cita bersama menuju Indonesia maju untuk itu melalui generasi beragama mari kita menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan termasuk oleh tokoh dan umat beragama para pahlawan kita                                                                                 

Gambaran Kondisi Siswa dan Madrasah
Dilingkungan madrasah saya saat ini mayoritas islam , baik itu kepala sekolah, guru, maupun siswa nya. Kita di ajarkan untuk saling kerja sama, tolong menolong, dan toleransi, baik itu suku, budaya, ras, dan negara.

Cerita Pengalaman Siswa
saya selama di sekolah ini adalah sangat menyenangkan. Baik guru-gurunya, lingkungan sekolah, dan teman-teman. Selama sekolah ini, banyak cerita yang tidak dapat diceritakan dan banyak pengalaman yang takkan terlupakan.

betapa menyenangkan saya sekolah di sini tidak akan terlupakan. Bila bisa mengulang waktu, saya ingin kembali ke masa awal sekolah hingga saat ini. Meski kadang ada yang menyenangkan, tetapi bila diingat kembali, semua ini membuat saya semakin menyukai sekolah ini. Karena semua takkan pernah ada jika saya tidak sekolah ini. Akan berbeda cerita dan pengalaman jika saya tidak memilih sekolah ini. (Sumber : https://man5tangerang.sch.id/2021/06/16/moderasi-beragama-dalam-kehidupan-siswa-madrasah/)

Pict Source : https://images.app.goo.gl/sQQQqp7q3ZZgpBL29