Keterangan Foto : Kegiatan Sosialisasi Kehumasan

Mengikuti Pola Perubahan Komunikasi Berita

Berdasarkan sharing kehumasan yang didapatkan tim humas beberapa minggu lalu, dan setelah diperhatikan dengan seksama Secara teori, literatur mengenai teknik penulisan berita memang sudah banyak bisa didapatkan di berbagai media sosial (medsos) atau melalui search engine seperti google. Untuk menjadi seorang jurnalis tentu harus dibekali dengan berbagai pelatihan-pelatihan yang rutin. Jurnalis adalah salah satu profesi seperti profesi guru, pengacara, atau dokter hanya yang membedakan profesi jurnalis adalah profesi yang terbuka untuk semua disiplin ilmu. Tidak seperti profesi lainnya yang harus linier dengan disiplin ilmu  yang ditempuh. Contohnya pengacara dari lulusan hukum, atau dokter dari lulusan kedokteran. Uniknya, lulusan jurnalistikpun tidak selalu menjadi jurnalis. Terkadang kita sendiri antara background pendidikan tidak linier dengan pekerjaan.

Kenapa harus ada pelatihan jurnalistik? Pelatihan-pelatihan jurnalistik diperlukan agar Publikasi di Kementerian Agama lebih booming lagi di berbagai sosial media. Berdasarkan pengamatan, untuk sosial media di Kementerian Agama Provinsi Banten ini sudah ada. Masalahnya adalah konten belum sama rata kualitasnya dan itu menjadi PR kita bersama.
Contohnya adalah Madrasah yang hampir semuanya punya website, tetapi belum secara optimal diisi oleh kegiatan-kegiatan atupun artikel-artikel yang dapat memotifasi siswa dan masyarakat dan sebagai ajang sosialisasi yang membranding Madrasah itu sendiri melalui Website. 

Dalam hal menulis sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sendiri. Hampir setiap hari kita menulis, minimal menulis status di Whatsapp atau di Facebook. Bagaimana pemikiran kita dan agar bisa dibaca secara luas melalui website dan mempunyai dampak yang lebih luas lagi untuk masyarakat?

Sesungguhnya untuk bisa menulis hanya pada pelatihan dan melatih diri sendiri untuk menulis. Kesulitannya sendiri adalah bagaimana memulai untuk menulis. Bagaimana ide dan gagasan kita bisa secara bebas tertuang dalam tulisan tersebut dan bagaimana tulisan bukan pada tatanan ilmiah tetapi juga populer yang bisa mudah dicerna oleh masyarakat. Berbeda dengan tulisan ilmiah seperti skripsi dan dibaca oleh bukan yang pendidikannya dibawah S1 maka akan sulit dicerna. Itulah salah satu gambaran umum agar dalam penulisan bisa lebih konsisten.

Seiring dengan perkembangan teknologi Informasi seperti sekarang ini, semua bisa menjadi Jurnalis. Tidak seperti dahulu profesi jurnalis hanya dimiliki oleh segelintir orang di media masa saja. Dahulu orang yang masuk TV hanya diliput oleh wartawan TV. Melalui teknologi Informasi sekarang sangatlah mudah. Kita tinggal membuat channel sendiri di Youtube, kita tampil dan kita share ke orang lain. Sudah banyak pola perubahan selera konsumsi masyrakat di era Teknologi Internet saat ini. Untuk memiliki pendapatan dari dunia broadcast dulu hanya dimiliki oleh TV. Sekarang ini, Youtuber bisa memiliki penghasilan dari Channel yang dibuat. 

Bagaimana pola komunikasi di Pemerintah agar bisa menyesuaikan dengan keinginan masyarakat? Untuk itu hampir seluruh Instansi Pemerintah memiliki Akun Media Sosial seperti Facebook, Twitter dan yang dapat menyangsang generasi paling muda adalah Instagram. Kementerian Agama Provinsi Banten baru beberapa memiliki akun Media Sosial dan masih perlu dukungan agar konten-kontennya dapat disebar secara maksimal. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Banten yang menginginkan agar seluruh Media Sosial harus berjalan dengan Optimal agar dapat mencitrakan Positif yang tetap menjaga Marwah Kementerian Agama.