Keterangan Foto : Penulis dan Penyuluh Agama Katolik bersama Haji Ahmadi

Melewati Kegersangan Hidup (Catatan seorang penyuluh Agama Katolik)

Ketika memberikan pembinaan pada kelompok-kelompok dampingan, sebagai penyuluh agama, bisa memetakan kelompok mana yang harus diberikan perhatian secara teratur dan rutin. Bila berhadapan dengan kelompok dampingan yang tidak memiliki banyak persoalan, pembinaan berjalan secara baik tanpa harus mendengarkan banyak keluhan dari mereka. Namun berhadapan dengan kelompok-kelompok khusus seperti pelayanan di Lapas dan juga di tahanan sementara di polsek. Berhadapan dengan kelompok khusus ini, terutama mereka yang menghuni Lapas dan tahanan sementara di polsek, bisa dilihat sebuah tekanan psikologis yang dihadapi oleh para narapidana, terkadang memiriskan nurani tetapi sebagai penyuluh agama, kita hanya memberikan pembinaan dan hiburan sekaligus meyakinkan agar seorang tersangka bisa menerima persoalan yang sedang dihadapi.

Beberapa tahun yang lalu, ketika masih bertugas di Pamulang, saya mengajak dua teman penyuluh Agama Islam untuk mengunjungi para tahanan sementara di Polsek Pamulang. Tempat yang dijadikan sebagai ruang tahanan itu tidak terlalu besar namun terkadang bisa menampung para tahanan sementara, melebihi kapasitas. Ukuran sel tahanan yang semestinya ditempati empat orang, terpaksa dihuni oleh sekitar delapan orang. Walaupun mereka dihimpun dalam satu tahanan dengan permasalahan yang beragam namun terlihat kompak di antara mereka. Selain memiliki latar belakang budaya, suku dan agama yang berbeda, namun mereka dipersatukan dalam ruang yang terbatas itu. Suasana akrab terbangun ketika makan bersama. Masing-masing anggota sel tahanan duduk melingkar berkelompok untuk menyantap santapan yang telah disediakan.

Kebersamaan yang dibangun adalah kebersamaan langka, yang sulit ditemukan. Karenanya, walaupun berada dalam kondisi bersalah, umumnya dari mereka menatap kebersamaan sebagai bagian penting dari hidup mereka terutama terbangun sikap saling mendukung satu sama lain. Kebersamaan juga menjadi “perekat” yang bisa mempersatukan dan dalam kebersamaan yang sama, tersulut kesadaran baru, saat di mana mereka semua berada dalam kondisi hidup yang memprihatinkan.

Untuk bisa meringankan beban batin yang terus mendera, setiap kali kunjungan kami membawakan buku-buku yang bernuasa rohani dan memberikan motivasi. Dengan membaca, mereka bisa mengolah batin secara lebih terorganisir. Mereka bisa belajar dari tokoh-tokoh sukses dan barangkali mereka bisa menginternalisasi diri dengan motivasi-motivasi yang konstruktif. Selain membaca, ada beberapa di antara mereka mencoba untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Ada yang menulis puisi, ada juga yang menulis cerpen dan semuanya membahasakan pengalaman jiwa yang sedang mereka alami. Tulisan-tulisan yang sempat kami kumpulkan, menjadi luapan refleksi terdalam dan bahasa kemanusiaan yang tersisih diungkapkan secara lugas penuh makna. Apa yang mereka alami dan renungkan dalam sel tahanan, pada akhirnya juga kami terima sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan diri.

Pengalaman mereka adalah “guru yang baik” untuk orang lain yang tidak mengalami pengalaman penahanan. Dalam proses penahanan itu, para tahanan sepertinya hidup sesuai dengan prinsip etika. Mereka selalu memahami dan mengamalkan prinsip etika universal: “apa yang diketahui baik, perlu dilakukan dan apa yang diketahui tidak baik, sebaiknya dihindari.” Inilah pesan-pesan bermakna yang lahir dari balik jeruji besi. Ketika terjerat dalam sebuah permasalahan dan ditahan, mata mereka menjadi melek, berani menerobos prinsip etika universal serta berani memetakan, mana yang benar dan mana yang salah.

Kesalahan yang mereka alami dilihat sebagai batu loncatan yang berharga dan menjadi pintu masuk untuk melihat “model-model” kebenaran dalam beretika hidup. Hidup yang benar, bisa juga dialami setelah melewati sebuah kehidupan yang salah. Dalam tahanan itu, kehidupan mereka ditempah dan dengan suatu harapan agar bisa menjadi baik setelah menjalani masa tahanan. “Kudidik diriku untuk kemudian mendidik orang lain.” Melewati masa-masa tahanan, tidak lebih dari melewati “kegersangan hidup.” Dalam kegersangan itu, mereka terus berharap untuk menikmati hidup yang lebih baik dari sebelumnya.***(Valery Kopong)