Keterangan Foto : Bunda Maria (sumber: google)

Fiat Voluntas Tua

Ketika Bunda Maria menerima tawaran Allah untuk menjadi ibu Tuhan melalui Malaikat Gabriel, Ia hanya berpasrah sambil mengucapkan, Fiat Voluntas Tua,jadilah menurut kehendak-Mu. Dengan mengungkap “Fiat” jelas terlihat sikap serah diri di hadapan Allah dan bahwa Allah menginisasi untuk mempersiapkan dan memilih Maria untuk mengandung Mesias dari Roh Kudus. Secara sederhana dapat dibayangkan, seandainya Bunda Maria menolak tawaran Allah untuk menjadi Bunda Allah maka peristiwa keselamatan tidak akan terjadi. Tetapi kita masih beruntung bahwa Maria senantiasa membuka diri bagi Allah dan dalam terang iman, Ia memilih menerima kabar gembira itu dengan pelbagai konsekuensi.

Bunda Maria berperan penting dalam karya keselamatan Allah. Rahim Maria adalah “rahim semesta” yang penuh dengan kasih dan membiarkan diri dalam tuntunan Allah yang memilihnya untuk menjadi Ibu Tuhan. Namun menjadi Ibu Tuhan, bukanlah sebuah perkara mudah. Tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Bunda Maria tidak hanya pada saat Ia menerima tawaran Allah itu dan melahirkan Sang Juru Selamat. Tantangan itu terus dihadapi dalam setiap zaman, oleh karena cara pandang yang berbeda tentangnya.

Dalam rentang waktu perjalanan Gereja, justeru banyak melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan terhadap gelar yang disematkan pada sosok Bunda Maria. Salah satu pertanyaan penting dan juga menjadi bahan perdebatan terkait gelar yang diberikan pada Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Bagi banyak kalangan, mereka hanya memandang Maria sebagai seorang ibu yang melahirkan Yesus, karena itu lebih tepat bila diberi gelar Bunda Kristus. Pandangan ini mengacu pada konsep Christotokos.

Namun dalam pandangan Theotokos, Bunda Maria pantas diberi gelar Bunda Allah dengan mengacu pada teks Injil Lukas1: 35. “Seruan Elisabet itu menegaskan kata-kata Malaikat Gabriel kepada Maria: “Sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” Gelar Maria sebagai Bunda Allah ditetapkan pada konsili Efesus dengan juga mangacu pada ajaran uskup Cyrillus dari Yerusalem. Gelar ini mengacu pada konsep theotokos, Bunda Allah, sebuah gelar yang diberikan pada Bunda Maria karena melahirkan Yesus, Sang Putera Allah. Ajaran St. Cyril dari Yerusalem (350) menegaskan bahwa “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, Roh Kudus turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..” (St. Cyril dari Jerusalem, Catechetical Lectures, X:19 – c. A.D. 350)

Ada banyak gelar yang diberikan untuk Bunda Maria. Gelar-gelar itu memperlihatkan makna yang berbeda dan sebagai upaya untuk memahami gelar itu perlu ada proses pemaknaan dan memahami terang kitab suci, terutama dalam kaitan dengan sejarah masa lampau umat Israel yang menjadi umat pilihan Allah dan hanya pada umat pilihan itu, Allah mengirim seorang penyelamat, Mesias. Bunda Maria juga diberi gelar sebagai “Tabut Perjanjian.” Dalam kehidupan masyarakat Israel, keberadaan Tabut Perjanjian menjadi sesuatu yang esensial karena menurut konsep orang-orang Israel, Tabut Perjanjian merupakan bukti kehadiran Allah yang mereka sapa sebagai Yahwe.

Mengapa Maria diberi gelar Tabut Perjanjian? Pertanyaan ini penting, untuk menggali, apa yang menjadi isi utama Tabut Perjanjian. Kita tahu bahwa dalam Tabut Perjanjian berisikan: roti manna, tongkat Harun dan dua loh batu. Kita coba melihat satu persatu korelasi isi Tabut Perjanjian dengan sosok Bunda Maria. Manna dan burung puyuh merupakan “roti surga” yang diturunkan Allah untuk bangsa Israel selama 40 tahun mengembara di padang gurun. Roti manna memberikan daya jasmani bagi bangsa Israel agar kuat menjalani pengembaraan hidup. Jika dikaitkan dengan gelar Maria sebagai Tabut Perjanjian, memiliki korelasi historis dengan masa lampau yang dialami oleh bani Israel. Dalam Perjanjian Baru, kita mengenal Bunda Maria yang mengandung Yesus yang adalah roti hidup yang turun dari sorga. Yesus telah bersabda: “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barang siapa minum darah-Ku dan makan dagingKu, ia memperoleh hidup yang kekal.”

Bunda Maria adalah seorang ibu yang taat akan kehendak Allah. Ketaatan Bunda Maria juga menunjukkan keteraturan hidup orang Israel di bawah tuntunan sepuluh perintah Allah yang diterima oleh Musa di atas gunung Sinai. Perjanjian Sinai tidak sekedar penerimaan dua loh batu yang berisi tentang sepuluh perintah Allah tetapi sebuah tuntutan untuk menerjemahkan perintah Allah itu dalam kehidupan sehari-hari. Hidup seturut kehendak Allah dan di bawah tuntunan sepuluh perintah Allah, menjadikan Bunda Maria taat dan membangun sikap pasrah pada kehendak Ilahi. Bunda Maria juga melahirkan Sang Imam Agung, Yesus Kristus, yang menuntun kawanan domba-Nya dengan tongkat kegembalaan. Dengan tongkat kegembalaan-Nya, Ia menuntun manusia untuk hidup secara paripurna di hadapan Allah dan pada akhirnya menemukan titik keselamatan.

Maria menaruh harap dan berpasrah pada kehendak Allah. Ia berani menjawab “ya” atas tawaran Allah untuk menjadi Ibu Tuhan dan tidak memikirkan segala resiko yang akan ditanggungnya. “Semua perkara kutanggung dalam Dia.” *** (Valery Kopong)