Keterangan Foto : Presiden Jokowi Mengenakan Baju Adat Suku Baduy (Sumber:www.detiknews.com)

Baduy: Potret Orang-Orang Kalah

Beberapa tahun yang lalu, ketika masih mengajar sosiologi di salah satu sekolah swasta Katolik di Cengkareng-Jakarta Barat, para guru sosiologi yang tergabung dalam MGMP mengadakan studi lapangan di Baduy, sebuah suku terasing di  wilayah Banten. Perjalanan panjang harus kami tempuh dan terutama ketika mendaki bukit, menuruni lembah untuk mencapai kampung Baduy Dalam. Kelompok guru-guru sosiologi itu menginap di salah satu kampung Baduy Dalam. Kami mendapat kemudahan untuk akses dalam perkampungan Baduy Dalam berkat bantuan seorang pemandu, yang juga peneliti sekaligus dosen terbang di salah satu univeritas ternama di Belanda. Pemandu itu sudah lama melakukan penelitian tentang kehidupan suku Baduy dan mempresentasikan hasil penelitiannya pada para mahasiswa di salah satu kampus bergensi  di  Belanda. 

Nama suku Baduy beberapa hari belakangan ini mencuat Kembali. Ketika Presiden Indonesia mengenakan busana Baduy pada pidato kenegaraan itu, seakan menggiring kesadaranku untuk mengingat petualanganku di masa lampau yang penuh dengan kenangan dan mengingat kembali akan nilai-nilai kemanusiaan yang dihidupkan oleh masyarakat Baduy. Orang Baduy lebih senang menyebut dirinya sebagai orang Kanekes. Mereka tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang berpihak alam  dan menjauhkan diri dari pengaruh modernisasi. Tak ada penerangan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tak ada jalan raya menembusi perkampungan yang sunyi itu. Yang ada hanyalah jalan setapak yang terus menatah telapak para pejalan kaki itu.

Mengapa ada Baduy Dalam dan ada juga Baduy Luar? Pertanyaan ini muncul Ketika berada di dua wilayah perkampungan yang tidak terlalu jauh jaraknya. Secara sederhana dikatakan bahwa bagi orang-orang yang berada dan bertahan hidup  di Baduy Dalam adalah mereka yang masih tetap mempertahankan tradisi dan terus melestarikan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Sementara orang-orang yang menempati posisi di Baduy Luar adalah mereka yang telah melanggar aturan, karena itu konsekuensi yang harus diterima adalah dikeluarkan dari Baduy Dalam. Aturan-aturan mana saja yang diberlakukan pada masyarakat Baduy Dalam? Sejauh yang saya tahu dan dapatkan informasi bahwa orang Baduy Dalam tidak diperbolehkan naik kendaraan ketika bepergian, entah ke Jakarta atau wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Mereka hanya berjalan kaki sambil menawarkan madu-madu hutan yang menjadi ciri khas suku Baduy.

Aturan lain yang diberlakukan adalah  tidak boleh berkelahi dan jika terjadi bentrok fisik sampai ada korban maka tidak ada alasan untuk dikeluarkan dari kampung Baduy Dalam. Dengan memandang suku terasing ini sepertinya memandang sebuah peradaban dan ada kerinduan bagi setiap orang yang cinta akan perdamaian ingin menggapai suasana itu. Ketika di masyarakat lain dalam belahan bumi Indonesia terjadi gesekan sosial bahkan mengorbankan nyawa, orang-orang Baduy tetap memelihara kerukunan itu sebagai perekat kebersamaan dalam membangun kampung nan asri itu. Walaupun tidak memiliki sistem pemerintahan modern tetapi masyarakat Baduy mengenal tata Kelola perkampungan dan masing-masing kampung memperlihatkan kekhasannya sekaligus merawat apa yang menjadi ketentuan yang terwaris itu.  

Melihat Baduy sebagai sebuah warisan berharga sekaligus mencerminkan peradaban dan kearifan lokal yang kian menghilang di tengah terpaan arus modernisasi. Modernitas membawa sebuah perubahan dan perubahan yang terjadi tidak hanya menggempur bangunan sosial tetapi juga menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Ketika kebanyakan orang Indonesia lebih mementingkan “aspek ketuhanan” tetapi pada saat yang sama ia lupa dengan aspek kemanusiaan, hal ini berbeda dengan orang Baduy yang mementingkan aspek kemanusiaan sekaligus membangun relasi intim dengan Sang Pencipta. Kita berbicara tentang relasi dengan yang Ilahi  dengan mengabaikan nilai kemanusiaan, sama halnya dengan “membangun ruang  hampa” karena Tuhan lebih senang bila mengakrabi-Nya yang hadir  melalui orang-orang kecil yang perlu disapa.

Orang-orang Baduy menganut agama “Sunda Wiwitan”  yang mungkin asing bagi kita tetapi dalam relasinya dengan Sang Maha Ada dalam keheningan, Tuhan yang mereka Imani adalah Tuhan yang berpihak pada orang-orang kecil dan mengajarkan untuk toleran dengan sesamanya. Kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai filosofis memberikan pencerahan pada setiap generasi untuk membangun sebuah peradaban yang nilai-nilainya berakar pada kehidupan sehari-hari. Orang-orang Baduy adalah “orang-orang kalah” di tengah modernitas. Mereka memilih “mengalah” dengan situasi agar peradaban yang terwaris itu bisa terbendung . Kekuatan utama  dan sekaligus pengendali jalannya roda kehidupan orang-orang Baduy berada pada tangan seorang “Pu’un,” pemimpin untuk masyarakat Baduy. Melihat busana Baduy yang dikenakan Presiden Indonesia, secara simbolik mengingatkan  kita akan pentingnya toleransi yang mulai terkoyak. Baduy hadir memberikan spirit baru bagi bangsa Indonesia sekaligus mengatakan bahwa tak ada “homo homini lupus” (manusia menjadi serigala bagi sesama) milik Thomas Hobbes di suku Baduy. Di sana hanya ada “homo homini socius” (manusia menjadi teman bagi sesama).***(Valery Kopong)