SINERGITAS KASUBBAG TU DAN KASI PAKIS DALAM MEMBANGUN KECERDASAN EMOSIONAL PEGAWAI


Kepala Subbag. TU Kankemenag Kota Cilegon Drs. H. Abu Nasor, M.SI. dalam Pengajian Rutin Di Musholla Kankemenag Kota Cilegon

CILEGON ( Inmas Kankemenag Kota Cilegon ), hari Senin ( 7/10 ) Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan ( PAKIS ) Kankemenag Kota Cilegon Samhudi pimpin apel pagi di halaman Kantor Kementerian Agama Kota Cilegon. Hadir dalam kegiatan tersebut Pejabat di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Cilegon, Pokjahulu, Pokjaluh, Pokjawas, seluruh Pegawai di lingkungan Kankemenag ( ASN / PNS dan honorer ).

Dalam amanah apel pagi Samhudi berkata: “ Mohon dukungan dan do’a untuk Pentas PAI tingkat nasional yang diselenggarakan di Sulawesi, Kota Cilegon dalam ajang ini mengirimkan 4 duta, yakni : Pidato putera dan puteri perwakilan dari SMP negeri 2 Kota Cilegon; Kaligrafi dari SMP RJ Kota Cilegon dan Fashion Busana Muslim dari SMK 17 Kota Cilegon. Insya Allah kegiatan Pentas PAI akan dilaksanakan pada tanggal 8 s.d. 10 Oktober 2019. Selanjutnya Pekan Olahraga dan Seni Diniyah ( PORSADIN ), akan diselenggarakan tanggal 14 s.d. 17 Oktober 2019 dan Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Nasional ( POSPENAS ), insya Allah bulan November di Bandung Jawa Barat.”

Kegiatan apel pagi ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Nabhani dari Penyelenggara Haji dan Umroh ( PHU ) Kankemenag Kota Cilegon.

Sementara ditempat terpisah setelah apel pagi, Kepala Subbag TU Kankemenag Kota Cilegon Abu Nasor memimpin pengajian rutin yang di selenggarakan oleh Bimas Islam Kankemenag Kota Cilegon di Musholla Kankemenag Kota Cilegon. Dalam kesempatan ini pengajian rutin yang diselenggarakan setiap hari senin mengambil tema: TAFAKUR.

“Tafakur adalah kegiatan berfikir atau merenungkan segala fenomena yang terjadi di alam semesta. Baik itu dari suatu kejadian ataupun dari suatu pengalaman inderawi. Dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 190-191, Allah SWT memerintahkan manusia untuk bertafakur. “Sesungguhnnya semua manusia diperintahkan untuk bertafakur menerenungkan tanda-tanda atau fenomena-fenomena alam ciptaan Allah, agar timbul kesadaran bahwa dibalik itu ada dzat yang maha kuasa, yang maha agung, dan yang maha bijaksana yaitu sang pencipta, Allah SWT.”  Tafakur merupakan salah satu bentuk wujud keimanan umat Islam kepada Allah SWT, disamping ibadah ibadah yang lain. Tafakur memiliki nilai yang begitu besar di Mata Allah ( dilihat dari segi pahala ), tidak semua kegiatan yang berdiam diri bisa disebut sebagai tafakur. Tafakur lebih kepada instrospeksi diri dan syukur atas kehadiran Allah yang telah memberikan nikmat kepada hamba-Nya.”  Ujar Abu Nasor.

Pengajian rutin kali ini dihujani dengan berbagai macam pertanyaan dalam sesi diskusi Tanya jawab, Subhan ( PAKIS ) menanyakan pentingnya muksa dalam ajaran Islam dan apakah dapat digolongkan sebagai bentuk tafakur di dalam agama Islam? Ade Fajrul Munawir ( PHU ) menanyakan masalah tempat untuk bertafakur apakah harus di masjid atau majelis?

Abu Nasor dengan cerdas memberikan jawaban dengan sebuah perumpamaan katanya: “ Apakah setiap orang yang dapat mempresentasikan hasil peneliatiannya dengan baik bisa mendapatkan Sarjana? ( tentu tidak, karena harus ada yang dilalui terlebih dahulu yakni menjadi/tercatat sebagai Mahasiswa. ), demikian juga dengan kita Insya Allah masuk surga dengan beragama Islam mengikuti ajaran dan aturan Agama Islam. Untuk menjawab pertanyaan dari  Ade Fajrul Munawir tentang tempat bertafakur tidak ada kewajiban tempat pelaksanaan tafakur, dimana saja dan kapan saja, Menurut para sufi, Tafakur adalah cara untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah dalam arti yang hakiki. Para Ulama mengatakan bahwa tafakur itu ibarat pelita hati, sehingga dapat terlihat baik dan buruk maupun manfaat dan madharat dari segala sesuatu, Sedangkan tadabur adalah suatu gambaran penglihatan hati terhadap akibat-akibat segala urusan. Baik tafakur maupun tadabur, keduanya sama-sama dilakukan dengan menggunakan mata hati. Bedanya, tafakur dilakukan untuk meneliti dalil atau indikator segala sesuatu hal, sedangkan tadabur dilakukan untuk meneliti akibat-akibatnya. Tasyakur artinya bersukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Tafakur dan Tadabur itulah yang akan mengantarkan manusia pada tasyakur. Hasilnya, manusia akan pandai bersyukur dengan memanfa’atkan nikmat yang diberikan padanya di jalan yang benar sesuai kehendak-Nya.

Jawaban senada juga ditambahkan oleh Kepala Kankemenag Kota Cilegon Mahfudin yang mengatakan: “ Ada seorang Santri bertanya pada Gurunya tentang maksud dari ayat Al-Qur’an, Sang Guru belum bisa menjawab apa maksud atau penafsiran ayat tersebut maka mohon waktu 1 minggu untuk mencari jawaban, setiap hari Sang Guru mencari jawaban dengan membuka pintu jendela rumahnya sambil memandang tunggak kayu kering yang sudah menjadi fosil, belum genap seminggu Sang Guru dalam bertafakur memalui memandang kayu fosil memperoleh jawaban hakikat dari tafsir yang ditanyakan Sang Santri. Itulah salah satu bentuk Tafakur, bukan berarti Sang Guru mengimani kayu kering yang sudah menjadi fosil yang menjawab pertanyaan Santri ( musrik ), tetapi menyadari kehadiran Allah ketika memandang fosil kayu tersebut dan menemukan jawaban-nya.”

Hal senada juga ditambahkan oleh Inas Nasulloh ( Penyuluh KUA Grogol dan Pulomerak ) tentang Ibnu Sina ahli kedokteran dan ilmuan serta filsuf banyak belajar ketika melihat bertumbuhan tumbuhan ketika membuka jendela rumahnya, semua ilmu yang dimilikinya tercermin dari tumbuhnya tumbuhan yang dilihat setiap hari sebagai salah satu bentuk penelitian tentang keilmuannya.

Kegiatan ditutup dengan makan pagi bersama dengan menu: “LOSAY” ( Lontong Sayur ) yang disediakan oleh Pokjawas Kankemenag Kota Cilegon. Selamat kepda seluruh Pejabat dan Pegawai di lingkungan Kankemenag Kota Cilegon yang terus mengasah dan menumbuhkan iman Islam melalui kegiatan pendalaman Al-Qur’an dalam bentuk pengajian rutin setiap hari Senin. Semoga kegiatan ini menambah keimanan Islam dan nikmat syukur yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. ( Abdullah Suko )

Sebelumnya LPTQ PANDEGLANG MULAI GUNAKAN FINGER PRINT PADA MTQ XXXVII DI SAKETI
Selanjutnya SINERGITAS KASUBBAG TU DAN KASI PAKIS DALAM MEMBANGUN KECERDASAN EMOSIONAL PEGAWAI