KETIKA PENDIDIKAN DI DEPAN PINTU TERTUTUP


Pendidikan adalah modal terbesar bagi kita menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu menopang kejayaan negeri. Kehidupan yang terus berubah secara nyata turut menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti. Perubahan kehidupan ini tentu cenderung ke arah peningkatan teknologi di segala bidang yang memiliki dua sisi mata pisau. Ada yang bermanfaat baik tapi ada juga yang bisa mengakibatkan keburukan. Keburukan inilah yang menjadi tantangan yang melekat erat pada setiap jengkal kemajuan teknologi.

Pendidikan menjadi satu-satunya harapan terbesar para orang tua untuk menjadi ‘jagoan’ atau protagonis yang bisa membentengi generasi mudadengan karakter agama dan budaya bangsa. Hal ini dibuktikan dengan begitu besarnya antusias para orang tua memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal dengan biaya tinggi sekalipun. Tapi, apakah upaya mem’protagonis’kan pendidikan bagi anak selesai sampai disitu? Ternyata tidak, begitu banyak pekerjaan rumah yang masih harus dicari jalan keluarnya. Disadari atau tidak bahwa pendidikan saat ini dikepung habis-habisan oleh pasukan antagonis yang mengatasnamakan kemajuan teknologi dan informasi, menghabiskan banyak energi tapi anak-anak kita tak mampu berprestasi.

Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjadikan ‘kegelisahan’ sebagai ibu kandung untuk segera melahirkan anak kesayangannya bernama ‘inovasi’. Kita jangan mau terjebak menjadi lalat di balik jendela kaca yang berputar-putar dan berulang-ulang mencari jalan keluar dengan cara yang sama tanpa melakukan perubahan sampai akhirnya mati sia-sia tanpa menemukan solusi.

Pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Kita tidak akan rela melihat pendidikan terlalu lama berdiri di depan pintu yang tertutup oleh keantagonisan teknologi. Kita harus mengetuk lalu membuka pintu itu bersama-sama sehingga kita bisa menyaksikan anak-anak kita dengan bangga mencahayakan pendidikan.

Menjadi guru MODIIS; Moderat, Inovatif, dan Inspiratif adalah pilihan cerdas yang dapat dilakukan oleh para sahabat pendidik. Sikap moderat menjadikan guru disukai peserta didik karena mampu menjadi penengah yang baik, tidak memaksakan kehendak, mau menerima pendapat peserta didik dengan bijak, dan tidak memihak. Sikap inovatif menjadi modal besar bagi kelancaran proses belajar mengajar yang menyenangkan. Sikap inspiratif menjadikan guru sebagai motivator besar bagi terciptanya kesantunan peserta didik, mampu memahami diri untuk berbakti kepada Allah SWT, kepada kedua orang tua, bangsa dan negara.

Suksesnya pendidikan bagi generasi muda juga sangat dipengaruhi oleh peran orang tua yang harus mampu menjadi teladan, menjadi panutan, menjadi sumber kekuatan yang menggembirakan saat anak-anaknya lemah dan sedih.

Akhirnya, bagi siapapun yang mencintai pendidikan. Bagi kemurnian diri, bagi sebuah pengabdian mulia tanpa batas. Disisa usia ini, apalah yang hendak dicari? Selain kebermanfaatan hidup bagi sesama. Jangan biarkan simbol yang  sendi-sendi pengabdian. Jangan biarkan bilangan angka-angka malah menduniakan hati dan cita-cita. Mari kita wujudkan mimpi Indonesia dengan kerjanyata dari rumah indah kita Kementerian Agama.

 

ASEP AZIS NASSER, S.Pd., M.Pd.

Kepala Seksi PAI Pendidikan Dasar Kanwil Kemenag Prov. Banten

 

Sebelumnya Subbagian Ortala dan Kepegawaian adakan Kegiatan penyusunan Laporan Kinerja Angkatan II dilingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Banten TA 2018
Selanjutnya KEMENAG KAB. SERANG PERKUAT KERUKUNAN UMAT BERAGAMA MELALUI DIALOG LINTAS AGAMA DAN BANTUAN BOP FKUB