Jenis Pertengkaran


Jenis pertengkaran setidaknya ada tiga:

1. Pertama pertengkaran standar

Yaitu pertengkaran dengan pihak yang jelas-jelas musuh, pembenci dan pendengki. Anda tak perlu risau kepada pertengkaran semacam ini. Karena tak peduli sebaik apapun Anda, ia akan tetap menjadi musuh Anda.

Ini adalah pertengkaran teringan dan termudah. Jalan terbaik melayani orang-orang semacam ini juga sederhana : cukup jangan dilayani. Biarkan ia tetap di sana, dan kita tetap di sini. Siapkan garis yang tegas.

2. Kedua pertengkaran kemungkinan.

Ini jenis pertengkaran yang mulai layak dirisaukan. Saya sebut pertengkaran kemungkinan karena sebetulnya kita masih mungkin tidak bertengkar. Mereka bukan musuh, tetapi sangat mungkin menjadi musuh hanya karena sebuah persoalan. Mereka juga mungkin menjadi sahabat karena sebuah alasan.

Jadi orang itu sebenarnya pihak yang netral..Konteksnyalah yang sangat berperan. Walaupun Anda orang baik dan dia juga orang baik, tetapi jika kebetulan Anda sedang buru-buru dan dia juga sedang buru-buru lalu berserempetan kendaraan di jalan, Anda berdua berpotensi bermusuhan.

Sungguh tak enak memiliki musuh yang sejatinya adalah orang-orang baik dan layak menjadi teman. Maka untuk menghindari pertengkaran jenis ini dibutuhkan usaha yang lebih ekstra. Pertama hati-hati, kedua berdoa.

Hati-hati adalah usahanya, doa adalah penguatnya. Kekuatan doa itu di atas usaha. Tetapi doa tanpa usaha nyaris percuma. Itulah hubungan unik keduanya.

3. Ketiga, adalah jenis pertengkaran terberat, yaitu pertengkaran mustahil.

Jenis pertengkaran ketiga ini sangat menakutkan, melelahkan dan menghancurkan.

Siapa lawan pertengkaran itu?‎

Mereka adalah pihak yang kepadanya kita mestinya mustahil bertengkar karena mereka adalah orang-orang yang sangat kita cintai. Jika Anda suami, ia adalah istri. Jika Anda bapak, mereka adalah anak. Jika Anda paman mereka adalah keponakan dan seterusnya.

Bertengkar dengan musuh, Anda bisa kuat dan bisa menang karena perangkat kejiwaan telah tersiapkan. Tetapi bertengkar dengan orang-orang yang Anda cintai, Anda sama sekali tak pernah punya persiapan.

Kesiapan kita hanya untuk mencintai, tak ada yang lain. Maka, ketika harus bertengkar dengan mereka, buahnya mengerikan: kehancuran bersama.

Usahakan sekuat yang kita bisa untuk menjauh dari pertengkaran jenis ini. Membayangkannya saja saya sudah tidak tahan.

‎Nabi SAW mengingatkan, jika ‎ada yang ngajakin berantem, bilang saja, “Innii shoo`imun, maaf saya sedang berpuasa”.

__________

Oleh: H. Azharul Fuad, S.Ag (Humas Kemenag Kota Tangsel)

Sebelumnya LTPQ Tangsel: Haflah Tilawatil Qur`an
Selanjutnya DMI Tangsel Mengadakan Bukber Bersama 1000 Marbot Masjid