Inilah Penggugur Amal Kebaikan


Inilah Penggugur Amal Kebaikan

(H. Azharul Fuad | Humas Kemenag Tangsel)

 

SEORANG kaya raya suatu kali mampir di sebuah masjid untuk sholat Ashar. Masjid tersebut cukup besar tapi belum rampung, masih dalam proses pembangunan.

Setelah sholat, ia menghubungi panitia dan bertanya, “Butuh dana berapa lagi untuk menyelesaikan masjid ini?”

Panitia menjawab, “Masih butuh sekitar 300 juta, pak.”

“Baik..”, kata si orang kaya, “Besok saya transfer 300 juta, tolong digunakan untuk menyelesaikan masjid ini.”

Panitia pun gembira karena tanpa diduga ada seorang dermawan yang menyumbang ke masjid tersebut.
Singkat cerita, selesailah masjid tersebut dengan megah dan indah.

Dua tahun kemudian, tanpa sengaja, si orang kaya tadi mampir lagi ke masjid itu untuk sholat Ashar, kali ini bersama supirnya.

Selesai sholat, supirnya berkata, “Wah, megah sekali masjid ini ya pak, indah sekali, nyaman! Masya Allah!”

Tuannya berkata, “Iya.. masjid ini memang megah, masjid ini memang indah. Tapi, kalau dua tahun lalu saya tidak sumbang 300 juta, masjid ini mungkin belum selesai sampai saat ini. Untung, dua tahun lalu saya sumbang 300 juta, sehingga masjid ini sekarang menjadi megah dan indah.”

Apa yang terjadi?!
Malaikat yang sedang mengawasinya menghapus dan mencoret pahala amal kebaikan yang dilakukannya dua tahun lalu. Nol di sisi Allah!

Kenapa?!
Karena ada unsur Riya` di dalam hatinya.

Riya` menghapus pahala amal kebaikan yang dilakukan seseorang, Nol di sisi Allah. Yang didapat hanya cape. Karena syarat utama suatu amal diterima oleh Allah, selain ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan syari’at, adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seseorang akan sia-sia belaka.

Ikhlas memang satu amalan yang berat. Urusan niat dalam hati bukanlah hal yang mudah. Tidaklah salah jika Sufyan ats-Tsauri berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.”

Ibnu Qayyim al-Jauzi juga pernah berkata, “Amal ibadah yang dilakukan dengan Riya`, bukan ikhlas karena Allah, bagaikan seorang musafir yang berjalan di padang pasir dalam terik matahari yang panas, tapi bekal yang dibawa olehnya adalah sekarung pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat bagi dirinya.”

Mari luruskan niat, jangan sampai terbersit rasa Riya` di hati saat melakukan suatu ibadah. Amal ibadah apapun, cukup menjadi rahasia antara kita dan Allah. Tidak perlu orang lain tahu, karena hal tersebut sangat mungkin memunculkan rasa Riya` di hati.

Sebelumnya Peringatan 1 Muharram 1440 H tahun 2018 di MTsN 5 Serang
Selanjutnya MAN 1 Kota Tangsel Ikuti Lomba Paduan Suara Mars MUI Banten