EKONOMI KREATIF BASIS PESANTREN


Pesantren sebagai sebuah institusi budaya yang lahir atas prakarsa dan inisiatif  para tokoh masyarakat yang bersifat otonom, dan merupakan lembaga yang menjadi ujung tombak dalam syiar agama Islam, serta mampu menciptakan potensi Sumber Daya Manusia yang produktif.

Keberadaan lembaga ini mampu menciptakan potensi santri yang mampu menembus persaingan dunia di abad era globalisasi, baik di bidang sosial budaya, bidang pendidikan bahkan di bidang ekonomi, jiwa wirausaha yang dimiliki para santri tidak terlepas peran kiayi sebagai pimpinan pesantren, atas dasar lembaga ini pula Indonesia memiliki salah satu asset terbesar yang banyak berkontribusi terhadap pendidikan Islam, serta berpotesi memberikan sumbangsih pembentukan karakter jiwa wirausaha dalam pengembangan ekonomi nasional.

Indonesia memiliki jumlah ribuan pesantren dibeberapa daerah lainya terliput lembaga pondok pesantren yang berada di Provinsi Banten. Pondok pesantren kini tidak hanya sekedar mengembangkan ilmu agama semata, akan tetapi harus di topang dengan life skill santri, sebab animo masyarakat era milenia pada pendidikan pesantren semakin berkurang, miris kondisi perkembangan zaman menggerus mindset para orangtua memandang pendidikan pondok pesantren dianggap sebelah mata, melihat gejala tersebut penulis tergugah untuk membangun mimpi mencetak santri enterpreneur, santri yang memiliki kemandirian pada bidang keahlian (skill), baik dibidang ilmu agama, tahfidz Qur’an maupun dalam bidang kewirausahaan, salah satu contoh seni budaya, santri dapat membuat kaligrafi dengan tuisan sangat indah dan kreatif, santri juga dibina untuk dapat menchanting batik, kemudian dalam bidang bercocok tanam, santri dibina untuk berbudidaya ikan, ternak, agribisnis dan lain sejenisnya.

Untuk itu pentingnya pemberdayaan melalui pengembangan potensi ekonomi, dengan memanfaatkan SDM santri sehingga tercipta kemandirian pesantren, untuk menciptakan santri yang memiliki jiwa entrepreuner tersebut, tentu harus dibekali dengan life skill, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilanya menjadi lapangan usaha, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Menyikapi hal ini, kementerian Negara Koperasi dan UKM RI Deputi Bidang pengembangan SDM merealisasikannya dalam program pengelolan tempat praktek Usaha Santri (TPUS), berdasarkan hasil pernyataaan tersebut pemerintah pusat telah mencanangkan program ekonomi kreatif berbasis pesantren, diharapkan semua potensi khas masing-masing desa bisa diangkat oleh peran serta para santri dalam mengembangkan ekonominya.

Kiprah pesantren sebagai agent of development turut berpartisipasi dalam upaya membangun ekonomi kreatif, ekonomi kreatif memang relatif baru di komunitas pesantren, walau pada aplikasinya pesantren telah sejak ribuan abad mencetak generasi santri yang memiliki jiwa mandiri, artinya pesantren memiliki potensi besar untuk mengembangkan dan menggerakkan ekonomi kreatif yang saat ini tengah dicanangkan oleh pemerintah.

Replikasi keberhasilan suatu pesantren santri memiliki potensi unggulan pada bidang kewirausahaan, maka dengan itu santri terus dipupuk keahlian baik di bidang teknologi, informasi, enterpreneur, maupun peningkatan kualitas iman dan takwa, agar santri siap menghadapi persaingan pasar bebas secara global.

Dalam hal ini Menko Polhukam Ruhut Binsar Pandjaitan dalam silaturrahminya ke salah satu Pondok Pesantren, berpesan pada santri agar para santri mampu menjadi individu yang produktif, terlebih jika sudah memasuki Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), jangan sampai tuan rumah justru menjadi budak di rumah sendiri, mengingat kompetisi SDM pada saat MEA semakin ketat.[Republika.Selasa, 02/2/2016].

Santri Entrepreneur

        Santri zaman now istilah nyeleneh anak muda, yakni santri yang memiliki kemandirian life skill  yang berkarakter, santri yang mampu menjawab tantangan zaman menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), selain sebagai penguat kemandirian pesantren, santri di tuntut mampu menjadi garda terdepan untuk menuntaskan prilaku-prilaku dunia usaha liberal.

Ekonomi Kreatif Berdaya Saing Basis Pesantren

        Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2020 mendatang, pondok pesantren dengan karakteristik yang dimilikinya tentu sudah harus siap berkompetisi serta berperan penting melalui pendidikan karakter dan memiliki keahlian dibidangnya, kini saatnya lembaga pondok pesantren yang berada di Provinsi Banten mampu dan bangkit membangun kemandirian dan kreativitas santri untuk tetap bisa survive dan maju dipasar pendidikan yang semakin kompetitif, sebab lalu lintas barang jasa dan budaya di negara-negara Asia Tenggara di tahun 2020 mendatang kian mudah dan murah, hal ini jangan sampai lembaga pendidikan pondok pesantren tertinggal lalu tenggelam dan lenyap dalam arus globalisasi.

Pesantren mampu bereksplore dan terbuka untuk meningkatkan kualitas santri membangun santri enterpreneur, oleh karena itu upaya optimalisasi ekonomi pesantren dalam pengembangan sumber daya manusia dengan menggunakan metode pendekatan lifeskill atau keterampilan secara berkesinambungan untuk membangun manusia yang memiliki kredibilitas dan kualitas ungulan serta menciptakan lapangan usaha bagi santri, selain itu pesantren dapat bersinergi dengan masyarakat dengan cara membangun sebuah badan usaha Simpan Pinjam berbasis Syariáh, pada dasarnya pengembangan ekonomi pesantren tidak hanya sebatas pada pemberdayaan koperasi semata, namun seiring perkembangan zaman pesantren dapat mengotimalkan pendidikan keterampilan menjadi sebuah ladang bisnis, yang dapat dimanfaatkan hasilnya oleh masyarakat dan pesantren, karena itulah upaya membangun perekonomian pesantren perlu terus digalakkan, maka diperlukan upaya peningkatan kewirausahaan sebagai pengembangan nilai kemandirian yang telah lama dikembangkan di pesantren.

Pesantren dengan berbagai potensi strategis yang dimilikinya, layak untuk menjadi lokomotif ekonomi syariah, disisi lain kemajuan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sangat memerlukan peran pesantren, oleh karena sampai saat ini pesantren masih menjadi institusi pendidikan Islam yang paling besar dan berpengaruh serta menjadi pusat pengkaderan ulama dan da’i yang legitimed di masyarakat.

Keterampilan dan usaha-usaha produktif yang berorientasi pada pendidikan life skill, yang selama ini menjadi kelemahan sistem pendidikan di pondok pesantren, unsur modernitas yang perlu diakomodasi oleh pesantren dengan metode leadership, organisasi, manajemen, kurikulum dan sistem pembelajaran yang selaras dan seimbang, maka pondok pesantren mampu bersaing dengan pendidikan umum.

Potensi pesantren cukup besar dalam pengembangan ekonomi, melirik dari beberapa pesantren-pesantren yang ada di Provinsi Banten, tidak sedikit pola pengembangan wirausaha diberbagai sektor telah direalisasikan oleh beberapa pesantren unggulan, seperti pesantren menerapkan wirausaha budidaya ternak, budidaya sayur mayur, mengembangkan jenis usaha waralaba serta bekerjasama dengan bank-bank lainnya, dengan demikian pesantren harus memiliki peran strategis di bidang ekonomi yang memberikan keuntungan bagi lembaga , pengelola dan santri.

Bukan hal yang mustahil bagi pesantren salafi atau bale rombeng untuk mewujudkan  pesantren produktif, secara bertahap dengan metode sistem keterampilan yang dimiliki santri serta fasilitas pesantren dapat diolah dan dikelola sendiri, sehingga para santri selain memiliki keterampilan juga menghasilkan nilai-nilai kemandirian pesantren, sebagai tahap awal pesantren perlu mengadakan pelatihan memasak, pelatihan ini bisa langsung mendatangkan juru masak pondok pesantren sebagai tenaga pengajar, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih, selain itu praktek bisa langsung dilakukan di area podok pesantren, hal ini sangat menguntungkan karena selain mempercepat proses penyajian makanan karena banyaknya tenaga, sewaktu-waktu para santri bisa menjadi juru masak pondok pesantren itu sendiri, sehingga tidak perlu mendatangkan juru masak dari luar, setelah itu santri dapat berternak lele,atau ayam serta bebek sehingga  hasil telurnya dapat diperjualbelikan dan hasilnya dapat diputar ulang, adapun penjualannya dapat secara online maupun penjualan system market, kemudian Pondok Pesantren dapat bekerjasama dengan ahli seni bagaimana cara mechanting batik dan mempraktekannya serta cara pengelolaan kemudian dipasarkan dengan berbagai fiture dan motif etnik. Selain itu upaya lainnya dapat diadakan pelatihan elektronika, lembaga pesantren dapat bekerjasama dengan sekolah sekolah kejuruan maupun mendatangkan ahli IT, dalam bidang agribisnis misalnya santri dibekali dan dilatih untuk terjun langsung bercocok tanam, berternak dan lain sebagainya sehingga dapat menghasilkan income serta bebas ketergantungan orang lain.

My dreams come true, jika semua pesantren yang ada di Provinsi Banten saat ini menerapkan system dan metode tersebut, sudah dipastikan pesantren mampu menyaingi bisnis-bisnis lokal, interlokal bahkan internasional, sebab Indonesia kini telah merangkak menuju pasar bebas bahkan sudah berhadapan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dengan demikian pesantren berkontribusi besar dalam pembangunan Ekonomi Kreatif yang sudah dicanangkan pemerintah, sebagai upaya menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan ekonomi pesantren yang produktif, inovatif, kreatif, fisioner, berkredibilitas dan berdaya saing.

-wallahuálambisshowab-

 

Oleh : EUIS SUHARTINI

Pelaksana Bidang Pendidikan Agama & Keagamaan Islam (PAKIS) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten

Sebelumnya Plt. KEPALA KANTOR KEMENAG KABUPATEN TANGERANG MELAPORKAN KEGIATAN BIMBINGAN MANASIK HAJI MASAL TAHUN 2018
Selanjutnya Ratusan Calon Haji Asal Tangsel Mengikuti Bimbingan Manasik Haji