Apakah itu Yang di Tangan Kananmu, Wahai Musa?


Apakah itu Yang di Tangan Kananmu, Wahai Musa?

Oleh: H. Azharul Fuad Mahfudh, S.Ag

(Humas Kemenag Kota Tangsel)

Saat seseorang bertemu dengan orang terkenal, baik pejabat, artis idola, atau orang yang sangat dikagumi, biasanya akan senang untuk ngobrol berlama-lama, kemudian berfoto selfie dengannya dan diupload di Media Sosial seperti Facebook, Instagram atau Twiter. Malah bila perlu fotonya dibingkai dan dipajang di dinding rumah.

Tak jarang, pertemuan itu diceritakan kepada banyak orang. “Eh, tadi aku ketemu si Fulan lho! Aku sempet foto bareng!”. Dan itu menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Saat bertemu dengan idola, kita akan berusaha ngobrol berlama-lama dengannya. Kalaupun tidak ada bahan obrolan (speechless), akhirnya apa pun dibicarakan. Semua itu dilakukan dengan maksud agar bisa berlama-lama dengannya.

Nabi Musa as, pernah mengalami hal ini saat beliau ngobrol langsung dengan Allah. Sebenarnya kisah ini cukup panjang, saya hanya akan mengutip speecless-nya nabi Musa as, saat beliau ngobrol langsung dengan Allah SWT.

Kisah ini ada dalam surat Thaahaa, surat ke 20, dimulai dari ayat ke-9.

Di saat Nabi Musa merasa shock karena kaget ada yang memanggil namanya di sebuah lembah suci Thuwa, yang memerintahkannya untuk melepas sandalnya, dan berkata, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”, maka untuk menghilangkan suasana tegang itu, Allah SWT bertanya:

“Wa maa tilka bi-yamiini-ka yaa Muusaa?”

“Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?”

Sebuah pertanyaan yang menyejukkan. Allah memanggil nama nabi Musa di belakang, bukan di depan. Karena dalam dialek bahasa Arab, jika sebuah nama disebut di depan, maka itu biasanya untuk ketegasan, misalnya “Ya Musa! Lepas sendalmu!, Ya Musa, sembahlah Aku!”.

Dari ayat ini, kita bisa mencontoh saat bertanya kepada anak, misalnya, “Mau kemana, Faiz?”, “Sudah makan belum, Faiz?”.

Berbeda jika kita menggunakan kalimat, “Faiz! Mau kemana?”, “Faiz! Sudah makan belum?”.

Ada perbedaan kesan yang ditimbulkan, yang pertama pertanyaan kasih sayang, dan yang kedua pertanyaan ketegasan.

Kembali ke kisah Nabi Musa as, saat beliau ditanya Allah, Nabi Musa as pun menjawab dengan banyak jawaban, padahal Allah hanya bertanya satu pertanyaan: “Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?”.

Tapi apa jawab Nabi Musa as?

Berkata Musa, “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.”

Sebuah jawaban yang berkesan speechless, Nabi Musa as berusaha untuk ngobrol berlama-lama dengan Allah, akhirnya beliau menceritakan tentang tongkatnya itu, hingga memukul daun untuk kambingnya pun diceritakannya.

Di saat nabi Musa as sudah mulai rileks, Allah SWT memerintahkannya dengan kalimat yang halus, “Lemparkanlah tokatmu, wahai Musa.”

Lalu tanpa berfikir panjang, nabi Musa as melempar tongkatnya, dan tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular besar yang merayap dengan cepat.

“Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,” perintah Allah dengan tegas.

Nabi Musa as pun memegang ular tersebut, dan ular itu pun berubah menjadi tongkat kembali.

Kisah dialog antara nabi Musa as dengan Allah SWT di bukit Thuwa ini berisi pelajaran dalam rangka menanamkan keyakinan kepada nabi Musa as sebelum menghadap Fir’aun beserta ahli sihirnya, kemudian nabi Musa as membawa kaum Bani Israil keluar dari Mesir dan menyeberangi laut merah yang kisahnya sering kita dengar saat masih kecil.

Sebelumnya Pembinaan Sadar Hukum dalam Bermedia Sosial
Selanjutnya Olah Raga Memanah Mendidik Generasi Muda Bersungguh-Sungguh Dalam Kehidupan